Oleh : Hj. Elya Pitri.
Anak adalah anugerah dari Allah yang dititipkan kepada para orang tua untuk dididik sebaik mungkin agar terlahir generasi-generasi yang berkualitas yang membawa kemaslahatan besar bagi kehidupan.
“Kullu mauludin yuuladu ala Fitroh” (Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci)
Ketika anak lahir dari rahim sang ibu, anak ibarat selembar kertas putih. Kertas putih ini akan digambar, diberi warna atau ditulisi apa saja sangat bergantung kepada orang tuanya.
Itu artinya peran kedua orang tua (Bapak dan Ibu), sangatlah berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Ketika lahir di dunia, anak pertama kali belajar ketauhidan dari sang ayah, melalui ritual adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri.
Dari ibu, anak belajar kasih sayang karena didekatkan ke dada ibu untuk menyusu. Selanjutnya sampai usia prasekolah yang mewarnai anak adalah orang tuanya. Ada banyak jalan yang bisa kita tempuh dalam berikhtiar mendidik anak.
Ikhtiar lahir tentunya kita lakukan dengan menyekolahkan, memondokkan, memberi kegiatan-kegiatan yang mampu mengasah bakatnya. Sedangkan ikhtiar batin juga tak kalah penting kita laksanakan demi mendukung anak-anak mampu menjadi pribadi unggul yang kelak bermanfaat di masyarakat. Ikhtiar batin ini lebih dikenal dengan istilah ‘tirakat’ .
Nirakati anak bisa dilakukan salah satunya dengan berpuasa di hari kelahiran anak (kalau dalam tradisi Jawa, dikenal dengan istilah weton).
Jangan buru-buru menganggap puasa weton sebagai bid’ah ya…karena Nabi Muhammad juga berpuasa di hari kelahirannya (hari Senin).
Selain berpuasa, bagi ibu-ibu yang kurang kuat untuk tirakat puasa, bisa juga menjalankan tips dari Nyai Hj.Raudhoh Quds Musthofa AlHafidzoh atau lebih akrab disapa Ning Udhoh (putri dari K.H.Mustofa Bisri) yaitu membaca Fatihah 100 kali setiap hari, boleh dicicil, tidak harus habis dalam satu majlis (tips ini disampaikan beliau pada satu kesempatan ketika menjadi pembicara dalam sebuah acara parenting).
Atau bisa juga menjalankan ijazah dari Nyai Hj.Chalimah Chudlori Magelang, yaitu pada hari kelahiran anak, orang tua membaca sholawat tunjina/sholawat munjiyat 41 kali, membaca surat Fatihah 41 kali, dan sedekah semampunya. InsyAllah putra-putra kita dijadikan anak yang sholih-sholihah, patuh kepada kedua orang tua, ahli ilmu, ahli Quran. Mari, kita menjaga dan mendidik anak-anak titipan yang Mahakuasa ini dengan baik.
Tidak hanya mencukupi kebutuhan lahiriahnya saja, tapi kita berikhtiar sekuat tenaga untuk mengisi kebutuhan batinnya dengan ‘tirakat’ senantiasa memohon petunjuk dan pertongan Allah yang Maha Segala-galanya.
Dengan harapan, anak-anak kita menjadi anak yang sholih sholihah, bermanfaat bagi umat, sukses dunia akhirat. Semoga berkah melimpah untuk kita semua.
MENJEMPUT LANGIT DI TENGAH BISING DUNIA
Pada suatu malam yang pekat, ketika cakrawala membisu, sejarah mencatat sebuah perjalanan melintasi batas logika manusia.
Isra Mikraj bukan sekadar riwayat tentang kilatan cahaya Buraq atau rimbunnya Sidratul Muntaha. Ia adalah tarian antara raga yang membumi dan jiwa yang melangit.
Di zaman ini, ketika jemari kita lebih sering menyentuh layar kaca daripada menengadah ke angkasa, kita sering kali kehilangan "Mikraj" dalam diri kita.
Kita terjebak dalam labirin kesibukan yang tiada ujung, mengejar dunia yang fana hingga lupa bahwa ada detak jantung yang merindu pada Sang Pencipta.
Isra Mikraj mengajarkan kita tentang Amul Huzni—tahun kesedihan. Saat Nabi Muhammad SAW dihimpit duka, Allah tidak memberikan harta, melainkan memberikan perjalanan ruhani.
Ini adalah pesan bagi kita : bahwa obat dari segala lelah mental dan himpitan ekonomi bukanlah pelarian tanpa arah, melainkan sujud yang menghujam bumi namun getarannya menembus langit.
Shalat yang kita dirikan adalah "Mikraj" bagi orang beriman.
Ia adalah frekuensi suci di tengah kebisingan informasi.
Ia adalah jeda dari hiruk-pukuk ambisi.
Maka, jadikanlah shalatmu sebagai saat di mana engkau meletakkan seluruh beban dunia di pintu masjid, dan membiarkan ruhmu terbang menemui Rabbnya tanpa sekat.
Jangan biarkan hatimu membatu oleh teknologi.
Jadilah manusia yang kakinya tetap berpijak di bumi untuk menebar manfaat, namun jiwanya tetap bertaut di singgasana Arasy.
Doa Penutup
Ya Allah, Sang Pemilik Malam yang melintasi waktu,
Sebagaimana Engkau telah memperjalankan kekasih-Mu menuju Sidratul Muntaha, perjalankanlah hati kami menuju cahaya-Mu di tengah gelapnya fitnah zaman.
Ya Muqallibal Qulub, teguhkan hati kami di atas ketaatan. Bersihkan batin kami dari debu-debu kesombongan
Aamiin Ya Rabbal Alamin
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...